Tetapi anehnya reuni diera facebook inipun semakin hari semakin membudaya di negeri kita. Banyak kritik dalam penyelengaraan reuni dari yang hanya hura-hura semata sampai kumpul dan makan bersama tanpa ada tujuan. Hal ini menurut ahli Etnografi dan komunikasi Amalia Maulana menandakan bedanya budaya bangsa kita dengan orang eropa dalam memandang reuni.
Dibawah ini wawancara dengan Amalia Maulana yang saya kutip dari salah satu media.
Apa sesungguhnya manfaat sebuah reuni?
Reuni memiliki sisi positif untuk kesehatan dan keharmonisan hubungan pertemanan. Reuni bisa dijadikan ajang bersosialisasi guna merekatkan kembali tali persahabatan. Reuni juga bermanfaat untuk mengembalikan peranan seseorang yang mungkin sudah terkikis waktu
Sebuah penelitian juga pernah mengungkap, ternyata kegiatan santai ini juga bisa membuat orang berumur panjang. Sebuah penelitian bahkan pernah menemukan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi teman dan saudara kemungkinannya meninggal lebih cepat berkurang 50 persen dibandingkan mereka yang tidak memiliki kehidupan sosial
Lalu, apa tujuan reuni itu sendiri?
Salah satu tujuan reuni adalah untuk memperbarui citra diri seseorang guna tampil prima. Mereka perlu merasa nyaman dan percaya diri baik dari segi fisik maupun emosional. Misalnya, saat kuliah seseorang adalah bintang kampus, cantik atau pintar dan menjadi pusat perhatian, tapi 20 tahun kemudian tidak seperti dulu lagi. Hal itu kadang membuat orang ragu-ragu untuk datang ke acara reuni karena dia sudah tidak cemerlang lagi karena peranannya sudah berkurang.
Nah, untuk mencemerlangkan diri itu harus bisa mencoba peranan barunya.
Justru dengan adanya reuni, orang itu punya semangat lagi untuk punya peranan seperti dulu. Tapi sebaliknya, seseorang itu dulunya di komunitas biasa-biasa saja, justru mereka malah mau berkumpul karena setelah 20 tahun orang itu menjadi orang baru. Sehingga dia ingin sekali mengadakan reuni. Maka dari situlah akan terbentuk komunitas baru tapi dengan orang-orang lama.
Membentuk komunitas tentu lebih dari sekedar mengumpulkan kartu nama, meminta alumnus mengisi formulir registrasi. Pembentukan komunitas secara profesional bisa dimulai sejak awal mengirimkan undangan untuk reuni. Mencari tahu needs and wants dari tiap anggotanya, untuk kemudian didisainkan sebuah acara reuni akbar yang sesuai dengan harapan. Memberikan insentif member-get-member bagi setiap alumni yang berhasil membawa teman hadir di acara. Saat ini banyak komunitas baru yang muncul dan setelah itu tenggelam kembali. Menciptakan komunitas mungkin mudah, tetapi, ternyata, pemeliharaannya yang sulit. Salah satu parameter komunitas yang solid adalah yang anggotanya memiliki Sense of Community (SoC) yang tinggi.
Ada pula yang memandang reuni dari sisi negatif sebagai kegiatan yang identik dengan hura-hura, pendapat anda?
Padahal, reuni tak harus menghambur-hamburkan uang. Tapi saya kira itu tergantung penggeraknya. Jadi kadang-kadang keberhasilan reuni tergantung keseriusan dari pengerak. Kalau pengeraknya yang memiliki building comunity, biasanya hura-huranya tidak menjadi fokus pasti akan ada tujuan tertentu. Misalnya pengumpulan dana untuk sekolah tertentu.
Apa ukuran keberhasilan sebuah reuni?
Ukuran keberhasilan sebuah reuni bagi tiap penyelenggara memang berbeda-beda. Saya pribadi memandang, suksesnya reuni bukan hanya dilihat dari jumlah orang yang hadir, atau dari meriahnya acara pada saat hari pelaksanaan saja. Melainkan bagaimana penyelenggara bisa menciptakan sebuah suasana yang nyaman untuk semua orang, yang akan menjadi landasan bagi kelanjutan pertemuan-pertemuan berikutnya.
Jika memang berhasil, maka akan terbentuk komunitas baru yang terdiri dari wajah-wajah lama. Saat ini, dimana orang berlomba untuk membentuk komunitas dengan berbagai tema, banyak dari unsur dalam reuni sekolah yang sudah bisa digarap secara langsung untuk membuat komunitas yang solid.
Apa persamaan maraknya reuni antara di Indonesia dan luar negeri?
Kalau di Indonesia dari kecil kita sudah terbiasa dengan grup culture, tapi kalau di luar negeri mereka lebih individual, jadi mereka lebih kepada traksaksional. Di luar negeri, masyarakatnya bertemu hanya karena ada urusan. Kalau kita, tidak seperti itu.
Orang Indonesia ketemu bukan karena ada urusan, tapi karena hubungan pertemanan dengan grup culture. Dari kecil kita sudah mengenal yang namanya keluarga besar dan kita merasa dekat dengan mereka semua. Nah, ini berbeda dengan situasi di luar negeri. Mereka hanya mengenal keluarga inti. Jadi kita bisa membentuk reuni dengan mudah karena sejak kecil kita sudah terbiasa dengan istilah kumpul-kumpul. Kalau di luar negeru, mereka harus ada tujuan untuk itu.(kompas.com)
Memperpanjang Umur.Reuni menjadi ajang bersosialisasi guna merekatkan kembali tali persahabatan. Salah satu tujuan reuni adalah untuk memperbarui citra diri seseorang guna tampil prima, mereka perlu merasa nyaman dan percaya diri baik dari segi fisik maupun emosional.
“Reuni juga bermanfaat untuk mengembalikan peranan seseorang yang mungkin sudah terkikis waktu,” kata Amalia di acara Polident Reuni Impian di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis 23 Februari 2012.
Sebuah penelitian juga pernah mengungkap manfaat dari kegiatan kumpul-kumpul bersama teman di ajang reuni. Ternyata kegiatan santai ini juga bisa membuat umur panjang. Sebuah penelitian bahkan pernah menemukan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi teman dan saudara kemungkinannya meninggal lebih cepat berkurang 50 persen dibandingkan mereka yang tidak memiliki kehidupan sosial.
Orang-orang yang memiliki kehidupan sosial yang cukup aktif rata-rata hidup 3,7 tahun lebih lama. Para peneliti juga mengungkap efek dari memiliki teman dibandingkan dengan berhenti merokok. Merasa sendirian dengan sedikit dukungan sosial meningkatkan risiko kematian, seperti kecanduan alkohol atau obesitas.
Penelitian yang dilakukan tim dari Brigham Young University dan University of North Carolina (UCLA) juga menunjukkan ada hubungan antara kematian dan kesepian baik pada wanita maupun pria di segala usia. Mereka menganalisis data dari 148 penelitian selama tiga dekade yang melibatkan 300.000 orang.
“Teman dan orang-orang yang mendukung dapat membuat hidup menjadi lebih terasa mudah. Mereka bisa meminjamkan uang, membantu mengurus bayi atau memberikan perhatian kecil yang membuat Anda merasa diperhatikan,” kata Bert Uchino, salah satu peneliti dari Brigham Young University, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Daily Mail.
Ia menambahkan, dukungan emosi yang didapatkan dari teman dan orang tercinta dapat membantu mengurangi beban masalah. Hal ini sangat penting agar tidak memicu stres atau depresi berat yang bisa menjadi penyakit dan memicu kematian lebih cepat.
“Seseorang yang mendapat dukungan dan hubungan sosial yang positif, tekanan darah, gula darah, metabolisme, dan stres hormonnya lebih stabil,” kata Teresa Ellen Seeman, profesor medis dari UCLA School of Public Health.